Mengapa roman gay menjadi fenomena di Prancis

Mengapa roman gay menjadi fenomena di Prancis

Share this article

Send it to a friend or pass it on.

X Facebook WhatsApp Telegram Reddit LinkedIn Email

Kalau hari ini ada satu tema yang paling menarik perhatian penulis maupun pembaca yang peduli pada komunitas LGBT, tema itu tentu saja cinta antara lelaki gay. Roman gay kian meluas dan menuntut penjelasan — dari situlah rasa ingin tahu tentang sejauh mana Prancis melangkah, dan mengapa begitu banyak penulis di sana menggarap tema ini.

roman gay di alam
Datanglah menjalani petualangan yang indah

Homoseksualitas dalam sastra Prancis

Homoseksualitas dan biseksualitas sudah lama hadir dalam sastra. Tema ini banyak diangkat dan banyak diperdebatkan, termasuk dalam karya-karya masa kini. Menelaah karya-karya itu memungkinkan kita membedakan dua pendekatan:

  • pandangan dari luar, yang sejajar dengan cara publik memandang penerimaan terhadap homoseksualitas — kerap dengan enggan;
  • pandangan dari dalam, yang terutama berbicara tentang kehidupan cinta dan kehidupan tubuh orang homoseksual dan biseksual.

Dalam sastra Prancis, tema-tema ini muncul di banyak karya. Sejak zaman kuno, hubungan erotis antarlelaki dipandang sebagai ikatan guru dan murid sehingga tak menimbulkan perdebatan; teks-teks Plato tentang pederasti menjadi saksinya. Namun pertanyaan tentang orientasi seksual menandai seluruh peradaban Barat dan menjadi pertanyaan yang hari ini nyaris dihampiri setiap orang yang menulis.

Bagaimana penulis Prancis memandang cinta antarlelaki

Pertanyaan «apakah preferensi seksual adalah sebuah identitas?» menimbulkan reaksi keras di dalam budaya gay sekaligus memperkuat perjuangan hak. Tabu homoseksualitas dikritik sekaligus didukung — justru dari dunia tempat roman gay berkembang luas. Para penulis Prancis akhirnya paham bahwa yang menarik pembaca dalam kisah cinta antarlelaki adalah kedalaman dan kepekaannya. Banyak pembaca ingin memahami dan merasakan perjalanan menerima diri sendiri.

Dan kalau pertanyaan-pertanyaan ini masih menimbulkan begitu banyak perdebatan serta menyodorkan tema orientasi homoseksual kepada para penulis, itu karena jawabannya kerap masih berupa ejekan. Justru hal itulah yang menyulitkan pembauran yang sungguhan, sekalipun kemajuannya tak terbantahkan. Menjadi gay di dunia yang disusun untuk pasangan heteroseksual bisa terasa berat, dan bersembunyi terasa dipaksakan. Kepada hal itulah novel-novel penulis Prancis menjawab.

Sastra ternyata menjadi saluran yang nyaris sempurna: ia sanggup membawa kisah cinta orang sesama jenis ke mana saja, ke setiap sudut. Beberapa tahun terakhir kisah semacam itu makin banyak, dan penulisnya pun bertambah. Semua buku itu punya satu tujuan bersama: memakai sastra untuk mengubah gambaran yang usang dan tak masuk akal.

Yang dituju adalah masyarakat tanpa diskriminasi karena orientasi seksual: lepas dari klise homofobia, dengan cakrawala yang lebih luas, dengan dinamika baru dalam menerima gerakan LGBT dan kesediaan untuk berbagi.

Komunitas gay di Prancis: apa kata Didier Lestrade

«Apakah orang gay bergeser ke kanan?» — pertanyaan itu diajukan kepada Didier Lestrade, yang dimintai pendapatnya tentang pawai kebanggaan di Prancis.

Lestrade adalah wartawan, aktivis, sekaligus penulis terkenal; di antara karyanya ada Act Up. Une histoire (Denoël, 2000) dan Cheikh. Journal de campagne (Flammarion, 2007). Ia tinggal di Normandia, tempat yang dipilihnya setelah meninggalkan Paris pada 2002.

Sebagai tokoh penting komunitas gay, ia menjawab seperti yang bisa diduga. Ringkasnya: selama waktu yang lama orang gay dipandang sebagai minoritas yang berpihak ke kiri, progresif, dan toleran — dan menurutnya itu tak lagi berlaku. Ia menyatakan bahwa di Prancis, bahkan di seluruh Eropa, rasisme memperoleh lahan di kalangan gay.

Ia menyebut Eropa untuk berhenti pada kasus Pim Fortuyn, pemimpin sayap kanan jauh di Belanda yang terang-terangan gay. Bagi sebagian orang ini terdengar baru, meski informasinya terbuka untuk siapa saja. Ia juga mencatat bahwa Marine Le Pen merayu pemilih homoseksual — dan sebagian dari mereka terbawa.

Lestrade melangkah lebih jauh dan berbicara tentang keegoisan serta minimnya rasa sungkan sebagian figur gay yang ulahnya sampai ke ranah publik. Menurutnya, elite gay yang terpaku pada uang, gengsi, dan hak istimewanya bertanggung jawab besar atas pergeseran ke kanan itu — gejala konsumerisme dan individualisme sengit yang mengalahkan kebersamaan.

Mampukah sastra menjawab semua pertanyaan itu? Tujuannya masih jauh, tetapi roman gay telah berbuat banyak di Prancis — barangkali malah melampaui batas. Apakah para novelis berlebihan? Jawaban atas pertanyaan itu kini ada pada pembaca.

Share this article

Send it to a friend or pass it on.

X Facebook WhatsApp Telegram Reddit LinkedIn Email
Discussion

Ce que la communauté en dit

Rejoindre la conversation

Visible immédiatement. Modération a posteriori. Email privé, jamais publié.